Jumat, 24 Juli 2009

Sebuah Puisi Menjadi Sarjana

My Dear…
Tak terasa
beberapa tahun sudah
Hari-hari kuliah kau lewati,
Praktikum,
Praktek lapang,
Penelitian,
Seminar, dan
Sidang engkau lewati
Akhirnya…
Hari ini engkau pun wisuda

Tangis bahagia, senyum mengembang, mata berbinar, wajah berseri nampak didirimu
Ucapan selamat dan peluk mesra
Dari Ayah dan Ibu, sanak keluarga, teman kuliah, kawan terdekat dan sahabat
Menambah haru birunya hari ini

Begitu banyak kenangan yang pernah telah dilalui
Suka, duka, tangis dan tawa selama kuliah
Biarlah semua itu menjadi memory yang tak terlupakan
Yang akan menjadi cerita buat anak cucu kita

Teruslah berjuang!
Dimanapun engkau berada
Selamat!
Buktikan engkau mampu menjadi generasi terbaik untuk bangsa ini
Dengan gelar sarjanamu
Walaupun kita kan berpisah
Oleh jarak dan waktu
Tapi, ingatlah saat-saat indah yang pernah kita jalani
Selamat yah, karena hari ini tepat 25 July 2009 Adalah hari istimewamu

Dedicated to: Apriza iryani
By Yurri Alenichev




4 Things U can not take back

Seorang gadis muda menunggu penerbangannya di ruang tunggu sebuah bandara yang super sibuk,

Karena harus menunggu berjam-jam, dia memutuskan membeli sebuah buku untuk menghabiskan waktunya. Dia juga membeli sebungkus kue

Dia duduk di kursi bersandaran tangan, di ruang VIP bandara, untuk istirahat dan membaca dengan tenang

Di sisi sandaran tangan di mana kue terletak, seorang laki-laki duduk di kursi sebelah, membuka majalah dan mulai membaca

Ketika ia mengambil kue pertama, laki-laki itu juga turut mengambil. Si gadis merasa gemas tapi tidak berkata apa-apa. Dia hanya berpikir:
“Lancang benar! Bila saya nggak sabaran sudah kugebuk dia untuk kenekatannya

Untuk setiap kue yang dia ambil, laki-laki itu turut mengambil satu.
Ini sangatlah membuatnya marah namun si gadis tak ingin sampai timbul kegaduhan di ruang itu

Ketika tinggal satu kue yang tersisa si gadis mulai berpikir:
“Aha…bakal ngapain sekarang orang yang nggak sopan ini?”
Lalu, laki-laki itu mengambil kue yang tersisa, membaginya dua, lalu memberikan yang separuh padanya.

Benar-benar keterlaluan!
Si gadis benar-benar marah besar sekarang!
Dalam kemarahannya, dia mengakhiri bukunya, dikemasnya barangnya lalu bergegas ke tempat boarding

Ketika sudah duduk di seat-nya, di dalam pesawat, dia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, dan…., dia sontak terkejut, sebungkus kuenya masih ada di dalam tas, tak tersentuh, tak terbuka! Dia merasa sangat malu!! Dia sadar telah keliru…
Dia lupa kalau kuenya masih tersimpan di dalam tas. Laki-laki tadi telah berbagi kue dengannya, tanpa merasa marah atau sengit

…ketika si gadis amat marah, berpikir bahwa ia telah berbagi kue dengan laki-laki itu. Dan kini tidak ada lagi kesempatan untuk menerangkan kelalaiannya..,juga untuk meminta maaf

Moril dari kisah ini…

Ada 4 hal yang tak dapat kembali..

1. Batu…
setelah ia dilontarkan!!
2. Kata…
…setelah ia diucapkan!
3. Kesempatan…
…setelah ia hilang!
4. Waktu
Setelah ia berlalu

Hai disana engkau yang baik, pernakah seseorang mengatakan seberapa spesialnya dirimu? Cahaya yang engkau pancarkan bahkan serupa dengan cahya bintang.

Pernakah orang mengatakan pada dirimu betapa pentingnya dirimu mengembangkan rumangsanya. Seseorang di sana menungging senyum di hati. Tandanya sayang yang begitu nyata.

Pernakah seseorang mengatakan padamu bahwa seringkali ketika mereka merasa sedih e-mail-mu membuatnya sedikit tersenyum, sebagai tandanya ia senang. Untuk waktu yang engkau gunakan mengirim pesan dan berbagi apa saja yang engkau temukan, tak perlu ada ucap balik terimakasih yang ditunggu, tapi setidaknya seseorang akan berpikir, mmm.. engkau sedang baik-baik saja. Pernakah seseorang mengatakan seberapa sukanya ia padamu? Baiklah temanku yang baik, hari ini aku mau bilang padamu.

Bahwa aku percaya tanpa teman dan keluarga engkau akan kehilangan banyak hal!!!

Semoga harimu menyenangkan, dan saya senang kita berteman!!!
HOPE YOU HAVE A GREAT DAY...

By Yurri Alenichev

TEMAN

Teman,
kata sederhana yang tidak mudah ditemukan dalam kenyataan

Teman,
tak semua yang dekat bisa berlabelkannya

Teman,
ada kerinduan untuk selalu dapat bertemu dengan sosok sepertinya

Pernahkah kau temukan seseorang yang
senantiasa setia di sisimu
kala kau jatuh dan hilang asa.

Pernahkah kau dapati sesosok makhluk
yang selalu tahan mendengar kisahmu
kala angin membawa berita-berita busuk tentangmu.

Pernahkah handphone berdering di tengah malam,
hanya untuk sebuah kalimat pendek
"Apa Kabar Imanmu Malam ini ?"

Pernahkah kau tangkap butiran air mata
yang disembunyikan, sehabis doa panjang
yang padanya terselip namamu.

By : Yurri_alenichev

Dialah teman sejatimu



Hujan Dan Dirimu

Tik! Tik! Tik!
Air hujan belum juga berhenti menjatuhi tubuhku dengan jarum-jarumnya Yang bening, basah dingin. Dan bulir-bulirnya mengalir di seluruh sudut wajahku. Tiba-tiba aku jadi ingat kamu. Yang tak pernah berhenti menghujaniku Dengan salam sms dan suaramu. Hangat lagi indah.

Ciplak! Ciplak! ciplak!
Sepasang kaki kecil berlari didepanku. Tanpa disengaja air percikannya mengotori separuh kemejaku.
Kemeja putihku.
Sama putihnya dengan rasa rindu yang ada di dalam hatiku saat ini.
Aku jadi ingat kamu lagi. Yang tak pernah puas memercikan rindu-rindu di dalam jiwaku. Manis dan megah.

Hening…
Kutelusuri hari-hari ini sendirian. Menguak kerumunan tawa di depan mata. Membelah sekumpulan tawa anak-anak kecil yang berlarian di tengah hujan. Seakan tak ingat pesan ibunda yang melarang dirinya bermain di bawah siraman air hujan. Yang ada Cuma tawa riang penuh kemenangan. Ada luka di kaki dan tangan. Tapi mereka tak acuh, tak pedulikan apa-apa.
Ah…, aku jadi ingat bekas lukamu di kaki dan tangan yang bisa membawa cerita untuk dikenang nanti. Suatu saat nanti…

Ada tempat berteduh di ujung sana setengah berlari aku mendekat duduk beralaskan plastik setengah kering. Kuambil kertas dan pena dari saku yang mulai terasa basah. Dan ingin menulis tentang kamu.
Semuanya tentang kamu….

……………… karna memang cuma kamu yang ada dikepalaku.

By : Yurri Alenichev




Kamis, 23 Juli 2009

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah

Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan.
Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan “apa kabar…”
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..
Lelah untuk mencari secuil kesempatan menyentuh atau membauinya.
Lelah dan lelah dan lelah..
Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..
Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya “apakah aku cukup pantas?”
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..


Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.
Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.
Namun itu pula yang saya rasakan selama hampir lebih dari 1 tahun.
Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan “Aku mencintaimu”
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan “aku baik – baik saja”
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.
Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..
Bahwa mencintai seseorang itu seperti memanggul sebuah salib.
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..
Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan “Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja”
Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.
Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.
Saya sadar ini adalah sebuah salib yang harus saya pikul.
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.
Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam

By : Yurri Alenichev