Air hujan belum juga berhenti menjatuhi tubuhku dengan jarum-jarumnya Yang bening, basah dingin. Dan bulir-bulirnya mengalir di seluruh sudut wajahku. Tiba-tiba aku jadi ingat kamu. Yang tak pernah berhenti menghujaniku Dengan salam sms dan suaramu. Hangat lagi indah.
Ciplak! Ciplak! ciplak!
Sepasang kaki kecil berlari didepanku. Tanpa disengaja air percikannya mengotori separuh kemejaku.
Kemeja putihku.
Sama putihnya dengan rasa rindu yang ada di dalam hatiku saat ini.
Aku jadi ingat kamu lagi. Yang tak pernah puas memercikan rindu-rindu di dalam jiwaku. Manis dan megah.
Hening…
Kutelusuri hari-hari ini sendirian. Menguak kerumunan tawa di depan mata. Membelah sekumpulan tawa anak-anak kecil yang berlarian di tengah hujan. Seakan tak ingat pesan ibunda yang melarang dirinya bermain di bawah siraman air hujan. Yang ada Cuma tawa riang penuh kemenangan. Ada luka di kaki dan tangan. Tapi mereka tak acuh, tak pedulikan apa-apa.
Ah…, aku jadi ingat bekas lukamu di kaki dan tangan yang bisa membawa cerita untuk dikenang nanti. Suatu saat nanti…
Ada tempat berteduh di ujung sana setengah berlari aku mendekat duduk beralaskan plastik setengah kering. Kuambil kertas dan pena dari saku yang mulai terasa basah. Dan ingin menulis tentang kamu.
Semuanya tentang kamu….
……………… karna memang cuma kamu yang ada dikepalaku.
By : Yurri Alenichev
Tidak ada komentar:
Posting Komentar