Senin, 14 Desember 2009

Penantian Cinta Gadis

Fajar kembali akan terbit. Tapi Gadis tetap terpaku didepan layar monitor komputernya. Entah hari yang keberapa Gadis hanya bisa terpaku dengan linangan air mata di pipinya. Gadis menanti... menanti yang dia sendiri tidak tau pasti apakah penantian itu akan membuahkan hasil, karena yang dinanti Gadis adalah cinta... cintanya yang mulai menjauh...

Gadis bimbang, ada tanda tanya besar dihatinya. Kemana cintanya? Mengapa cintanya menjauh? Apa salahnya Gadis? Tak ada yang mampu menjawab. Segala usaha Gadis untuk mencari jawaban cintanya seakan tak pernah ada hasil.

Tapi Gadis tetap sabar. Ia teringat akan kalimat yang pernah dibacanya mengenai makna cinta... "Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya, adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia, adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata -Aku turut berbahagia untukmu-".

Ditengah ketegarannya Gadis kembali menitikkan air matanya. Ada apa lagi? Gadis kembali rapuh mengingat cintanya. Ia berpikir, bukankah cinta tak harus berwujud bunga? Namun cinta perlu perhatian dan kepastian. Bagaimana mungkin dia mendapatinya jika segala usaha mencari kepastian cintanya tiada membuahkan hasil.
Gadis harus bagaimana???

Gadis mulai menghamparkan sajadahnya. Memohon kepada Rabb-nya agar ditunjukkan jalan menuju cintanya yang menjauh, cinta yang diberikannya dengan tulus, ikhlas dan sepenuh hati. Sekarang Gadis hanya pasrah, menanti kepastian status cintanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar